Next Post

Opu Daeng Risadju, Apakah Kamu Mengenalnya?

Opu Dg. Risadju

AWN (210421) – “Dia tinggal di rumah yang reot, sebuah gubuk yang bahkan sudah hampir roboh. Saya awalnya tidak kenal siapa dia, seorang perempuan yang tidak dapat mendengar. Baru saya tahu setelah saya di Jakarta, dia adalah pejuang besar.” Anhar Gonggong – Guru Besar Sejarah Universitas Indonesia (UI).

Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, nama R.A. Kartini atau Cut Nyak Dien sudah cukup familier di telinga, namun bagaimana dengan Opu Daeng Risadju? Berapa banyak generasi muda yang pernah mendengar namanya atau mengetahui sumbangsihnya bagi negeri ini?

Gadis kecil itu bernama Famajjah. Ia lahir di kota Palopo pada 1880 silam dan mewarisi darah bangsawan Kerajaan Luwu yang diturunkan orang tuanya, Muhammad Abdullah To Baresseng dan Opu Daeng Mawellu. Siapa yang menyangka, ternyata Famajjah kecil tumbuh menjadi sosok perempuan pemberani yang terjun langsung melawan penjajahan Belanda, sebuah aksi heroik yang masih cukup langka dilakukan oleh para perempuan di masanya, terlebih lagi di Sulawesi Selatan yang kental akan budaya patriarkinya. Meski buta huruf (para perempuan kala itu dilarang mengenyam pendidikan di sekolah Belanda), Famajjah yang kemudian dikenal dengan nama Opu Daeng Risadju, memiliki jiwa kepemimpinan yang mumpuni, terbukti dengan pencapaiannya mendirikan cabang Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII) di Palopo pada tanggal 14 Januari 1930 sekaligus menjadi ketuanya. Tanpa pendidikan formal tidak menyurutkan semangat belajarnya, ia terus berusaha berguru kepada tokoh-tokoh partai hingga melek politik dan aktif menjadi anggota PSII sejak 1927 saat usianya sekitar 47 tahun.

Aktivitas politik dan propaganda anti penjajahan yang gencar disuarakan oleh Opu Daeng Risadju berujung pada penangkapan dirinya. Ia dianggap sebagai ancaman oleh pihak penjajah karena menghasut rakyat untuk melawan Belanda. Ia ditangkap oleh tentara Nederlandsch Indië Civil Administratie (NICA) di usia senja, 67 tahun. Opu Daeng Risadju dipaksa berjalan kaki sejauh 40 km menuju penjara di Watampone di mana ia ditahan sebulan lalu dipindahkan ke Sengkang, kemudian dikembalikan ke penjara Bajo di Bone. Di penjara Bajo inilah Opu Daeng Risadju mendapatkan penyiksaan yang amat kejam, terlebih lagi untuk seorang yang sudah sepuh. Ia dijemur, dipaksa berlari mengelilingi sebuah lapangan sambil menatap teriknya matahari dengan sebuah senapan diletakkan oleh Ladu Kalapita di samping telinganya dan diletuskan. Kemudian kepala Distrik Bajo yang biadab itu juga terus menendang tubuh rentanya. Akibat penyiksaan tak berperikemanusiaan tersebut, Opu Daeng Risadju menjadi tuli selama sisa hidupnya. Ia ditahan di sebuah penjara bawah tanah selama kurang lebih setahun lalu dibebaskan tanpa peradilan.

Setelah kemerdekaan, Opu Daeng Risadju menjalani usia senjanya di Parepare bersama putranya, Abdul Kadir Daud. Pada 10 Februari 1964, Opu Daeng Risadju, sang singa betina dari timur, mengembuskan napas terakhirnya dan dimakamkan di kompleks makam raja-raja Luwu di Palopo tanpa upacara kehormatan. Pada tanggal 3 November 2006, beliau akhirnya dianugerahi gelar Pahlawan Nasional.(awn/ftr)

 

Referensi:

https://tirto.id/opu-daeng-risadju-menentang-kolonialisme-di-usia-senja-cH4P

https://news.detik.com/berita/d-5248930/mengenal-opu-daeng-risaju-pahlawan-wanita-sulsel-yang-dibuat-tuli-belanda

https://republika.co.id/berita/nasional/politik/14/11/10/nesxbo-opu-daeng-risaju-penjara-bawah-tanah-dan-disiksa-hingga-tuli-bagian-3

asiawomennews

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Newsletter

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit.

ban11

Recent News