Next Post

#METOO – DARI AMERIKA HINGGA KE CINA (Bagian 2)

#metoo

Penulis: Fitri Usman Ali

Pemerhati Gerakan Perempuan


AWN, (15/02/21) – Menyambung pembahasan di bagian pertama terkait penggunaan tagar #MeToo di Mesir, Cina dan India, sekarang saatnya menelusuri kasus-kasus serupa di negara-negara berikut:

  • Gerakan #MeToo di Pakistan

Bocah perempuan bernasib nahas itu bernama Zainab Ansari, usianya baru delapan tahun ketika ia diperkosa kemudian dibunuh oleh seorang pria yang telah melakukan tindakan keji serupa terhadap puluhan anak-anak perempuan lainnya. Kasus Zainab yang terjadi pada Januari 2018 memicu kemarahan nasional di Pakistan. Terjadi aksi protes di seluruh penjuru negeri karena masyarakat menilai aparat terlalu lamban menangani kasus ini hingga menimbulkan banyak korban. Di tahun itu pulalah seorang aktris sekaligus penyanyi bernama Meesha Shafi memprakarsai gerakan #MeToo di Pakistan dengan membuat pernyataan mengejutkan bahwa musisi kenamaan Ali Zafar telah melakukan pelecehan seksual terhadap dirinya. Meesha mengaku memberanikan diri berbagi cerita karena bertekad mengakhiri budaya diam yang selama ini membungkam korban dan menyulitkan penuntasan kasus-kasus kekerasan seksual.

Setali tiga uang dengan India, Pakistan juga tercatat sebagai salah satu negara yang paling tidak ramah terhadap perempuan. Hal ini terbukti dengan banyaknya kasus kekerasan terhadap perempuan, baik dalam ranah pribadi maupun di ruang publik. Apalagi jika menyangkut pelecehan dan pemerkosaan, keadilan menjadi hal yang langka bagi para korban. Bukan tanpa alasan, pembahasan terkait seks dianggap tabu di negara konservatif tersebut, umumnya korban malah dituntut diam untuk menutupi rasa “malu” dan aib keluarga. Logika terbalik? Ya, tampaknya seperti itu. Bukankah pelaku yang seharusnya “malu besar” atas perbuatan bejatnya? Kok malah korban yang dianggap “memalukan” atau “menjadi aib”? Lagi-lagi victim blaming, terjadi di mana-mana.

Inisiatif Meesha rupanya membuahkan hasil yang positif, tiga pesohor lainnya juga mulai membuka mulut mengenai pengalaman kelam mereka di masa lalu. Mereka adalah aktris Nadia Jamil, seorang perancang busana bernama Maheen Khan dan Frieha Altaf yang bekerja sebagai pakar humas senior. Bagaikan efek bola salju, jumlah perempuan Pakistan yang membagi kisah pilunya dengan tagar #MeToo di media sosial semakin meningkat dari hari ke hari. Mereka tidak lagi peduli dengan sudut pandang kolot yang menganggap tindakan tersebut tabu. Akan tetapi hasil perjuangan tidak selalu seindah harapan, Meesha malah dituntut balik oleh Ali Zafar dengan tuduhan pencemaran nama baik, meskipun laporan sang artis diperkuat oleh menyusulnya laporan serupa terhadap Ali Zafar dari delapan perempuan lain. Kasus yang melibatkan pesohor Pakistan ini tergolong pelik sebab masing-masing pihak mengaku “benar”. Kuasa hukum Ali Zafar bersikukuh bahwa apa yang dilakukan oleh pihak yang mengaku sebagai korban dengan berbagi cerita bertagar #MeToo adalah kampanye kotor untuk menjatuhkan si musisi. Ali Zafar menolak semua tuduhan yang diarahkan kepadanya dan mengklaim semua itu sebagai fitnah belaka. Entah kapan misteri itu akan terungkap dan kebenaran menjadi terang-benderang. Faktanya, gerakan feminisme memang sangat sulit diterima di Pakistan, bahkan dilabeli “Konsep Barat”. Parahnya lagi, mereka yang membagi kisah pelecehan yang dialaminya di media sosial dapat terancam Undang-Undang Pencegahan Kejahatan Elektronik 2016, undang-undang yang-katanya-dapat melindungi perempuan dari cyber-crime. Yang kerap terjadi justru sebaliknya, beberapa tertuduh malah menggunakan Undang-Undang Pencemaran Nama Baik sebagai alat untuk meloloskan diri. Tampaknya perjuangan para korban kekerasan seksual untuk mendapatkan keadilan masih panjang, namun keberanian untuk bersuara semakin nyata.

 

  • Gerakan #MeToo di Singapura

Tercatat sebagai negara maju pertama di ASEAN dan salah satu negara maju di dunia tidak membuat Singapura terbebas dari kasus-kasus kekerasan seksual. Institusi pendidikan tinggi, transportasi publik dan perkantoran menjadi tempat yang rawan pelecehan di negara ini. Untungnya sebagian besar warganya lebih berani bersikap jika mengalami pelecehan dan pengaduan mereka pun tergolong mendapatkan penanganan yang cepat. Sexual Assault Care Centre (SACC) adalah lembaga yang menerima dan mengelola pengaduan warga yang mengalami kekerasan seksual. SACC merupakan bagian dari Association of Women for Action and Research (AWARE), sebuah grup advokasi kesetaraan gender terkemuka di Singapura.

 

Saat gerakan #MeToo tersiar ke penjuru dunia, rupanya pengaruhnya juga sampai di Singapura. Pihak SACC mengaku mendapat panggilan pengaduan dua kali lipat, yang umumnya hanya sekitar 35 kasus dalam sebulan, meningkat menjadi 70. Seorang penyintas kekerasan seksual bahkan terinspirasi untuk menginisiasi sebuah wadah bernama Hear to Change pada tanggal 5 November 2017, situs untuk menampung pengalaman para penyintas (anonymous) kasus kekerasan seksual. Situs tersebut sekaligus menjadi ruang aman untuk saling menguatkan, berbagi cerita tentang bagaimana mereka menuntaskan kasus, meraih jalan menuju keadilan, menghadapi trauma dan move on. Cukup banyak kasus pelecehan yang telah dituntaskan di Singapura, tanpa memandang siapa tersangkanya. Misalnya kasus pelecehan yang dilakukan oleh seorang majikan kepada Tenaga Kerja Indonesia (TKI), membuat si pelaku, Saffie Supa’at, didakwa dengan enam pasal dan harus meringkuk di balik jeruji selama 14 bulan + 2 minggu. Keberhasilan lainnya adalah terungkapnya ratusan kasus pelecehan seksual di perguruan tinggi pada bulan Oktober 2020 yang melibatkan staf dan mahasiswa. Kementerian Pendidikan Singapura menyatakan komitmennya untuk melakukan penyidikan mendalam terhadap kasus-kasus serupa dan akan menjatuhkan hukuman yang seberat-beratnya bagi pelaku, termasuk pemecatan bagi dosen yang terlibat.

 

  • Gerakan #MeToo di Indonesia (baca di artikel berikutnya ya…)

 

Referensi:

  • https://time.com/5900710/pakistan-me-too-movement-lawsuits/
  • https://dunia.tempo.co/read/1051253/pesohor-pakistan-bergabung-dengan-gerakan-metoo
  • https://www.forbes.com/sites/christineamourlevar/2017/12/17/sexual-harassment-in-the-workplace-is-singapore-feeling-the-weinstein-effect/?sh=688b8cc3160d
  • https://www.straitstimes.com/singapore/given-a-years-salary-and-asked-to-leave-when-she-complained

Belum baca bagian pertama? baca disini 

https://www.asiawomennews.com/women-opinion/metoo-dari-amerika-hingga-ke-cina-bagian-1/

 

asiawomennews

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Newsletter

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit.

ban11

Recent News