Next Post

#METOO – Dari Amerika Hingga Ke Cina (Bagian 1)

Untitled design

Penulis: Fitri Usman Ali

Pemerhati Gerakan Perempuan

Tagar #MeToo bertebaran di media sosial. Apa yang spesial dengan tagar tersebut? Apakah mengandung makna tertentu?

Berikut beberapa peristiwa menggemparkan dari berbagai belahan dunia yang menggunakan tagar #MeToo:

  • Gerakan #MeToo di Mesir

Berawal dari kasus Ahmed Bassam Zaki, seorang pemuda berlatar belakang keluarga kaya yang memanfaatkan Facebook, grup daring maupun organisasi sekolah untuk berkenalan dengan perempuan calon korbannya. Bermodalkan rayuan gombal, Zaki biasanya berhasil mendapatkan foto-foto seksi gadis-gadis malang tersebut yang kemudian ia gunakan untuk memanipulasi, mengancam  dan menjebak mereka agar mau berhubungan badan dengannya.

Korban pertama yang melaporkan pelecehan seksual yang dialaminya adalah seorang mahasiswi American University of Cairo, universitas tempat Zaki berkuliah hingga tahun 2018. Pengakuan korban pertama ini lalu diunggah oleh sebuah akun Instagram “Assault Police” yang kemudian memicu korban-korban lainnya untuk bersuara. Di saat usianya masih 20 tahun, Zaki telah melakukan kekerasan seksual terhadap lebih dari 50 perempuan, beberapa di antara para korban bahkan masih di bawah umur. Kasus kekerasan seksual di Mesir memang cukup jarang sampai ke telinga masyarakat luas karena budayanya yang konservatif. Masyarakat Mesir menjunjung tinggi nama baik keluarganya dan perempuan yang telah ternoda “kesuciannya” dianggap sebagai aib yang maha besar. Oleh karena itu, para korban kekerasan seksual memilih bungkam dan menutupi luka batinnya sendiri. Yang terburuk adalah ketika perempuan korban pemerkosaan mengungkapkan fakta, justru ia yang dianggap salah. Victim blaming terhadap korban kekerasan seksual sangat umum terjadi di Mesir, perempuan biasa dituduh merayu atau memancing birahi lelaki karena pakaiannya (padahal pakaian bukanlah faktor pemicu kejahatan seksual, pada dasarnya, pelakulah yang bejat). Titik terang dan harapan akan keadilan mulai terlihat saat korban-korban Zaki menunjukkan keberanian berbicara di media sosial, membakar kemarahan masyarakat yang sudah muak dan menolak diam. Tagar #MeToo pun menjadi trending di Mesir, sebagai simbol solidaritas dan perlawanan terhadap kekerasan seksual. Tidak berhenti sampai di kasus Zaki, rupanya kampanye #MeToo cukup berpengaruh, media sosial di Mesir mulai dibanjiri curahan hati korban lain yang mengalami kasus serupa. Tuntutan hukum pun mulai menyasar pria-pria kaya dan berpengaruh di Mesir yang secara diam-diam ternyata telah melakukan kejahatan seksual. Mereka yang tindakan bejatnya mulai terungkap antara lain Mohamed Hasyem, seorang penulis dan pemilik penerbitan ternama. Yang paling mengejutkan adalah terungkapnya sebuah kasus pemerkosaan berantai yang dilakukan oleh 9 pemuda terhadap seorang gadis di sebuah hotel mewah di Kairo, Fairmont Nile City Hotel. Sekali lagi, akun Instagram Assault Police-lah yang membeberkan kasus ini (akun “penolong” ini ditutup setelah administratornya mendapat ancaman pembunuhan, lalu beberapa bulan kemudian mulai aktif kembali dengan unggahan pertama bertuliskan “Kami Tidak Takut.”). Kasus ini sebenarnya terjadi pada tahun 2014, 9 pelaku membius korbannya lalu memperkosanya secara bergiliran, namun korban baru berani mengungkap kisah kelamnya setelah kehebohan kasus Zaki di dunia maya. Sayangnya, 7 pelaku telah melarikan diri dari Mesir setelah mendapat tekanan keras secara daring dari masyarakat pengguna media sosial. Penyelesaian kasus ini pun menuai banyak keraguan karena orang tua para pelaku merupakan pengusaha terkemuka dan berpengaruh di Mesir. Terlebih setelah saksi kunci justru malah ditahan oleh pemerintah atas tuduhan pelanggaran undang-undang moralitas. Sungguh membingungkan. Pemerintah seolah-olah malah berpihak pada para pelaku yang berasal dari keluarga terpandang. Padahal bukti untuk kasus ini sudah sangat jelas, berupa video yang direkam sendiri oleh para pelaku saat menjalankan aksi bejatnya. Semoga ada harapan baru untuk penuntasan kasus ini dan para korban mendapatkan keadilan. Kembali ke kasus Ahmed Bassam Zaki, sang predator seksual ini akhirnya divonis 3 tahun penjara pada bulan Desember 2020. Hukuman tersebut terbilang sangat ringan mengingat jumlah korbannya yang begitu banyak. Apalagi jika mempertimbangkan trauma seumur hidup yang diderita para korban, putusan pengadilan tersebut sungguh tidak adil. Yang lebih mencengangkan, keputusan tersebut bukanlah keputusan final sebab pelaku masih mendapatkan kesempatan untuk mengajukan banding.

  • Gerakan #MeToo di Cina

Tidak berbeda jauh dengan kondisi di Mesir, kasus kekerasan seksual yang terjadi di Cina juga terbilang jarang diekspos di media, terlebih lagi jika pelakunya adalah orang yang berpengaruh. Namun Zhou Xiaoxuan, atau yang lebih dikenal dengan nama Xianzi, mengambil langkah yang berani. Gadis yang terinspirasi oleh keberhasilan gerakan #MeToo di Amerika tersebut melaporkan seorang pembawa acara TV paling terkenal di Cina atas tuduhan kekerasan seksual yang menimpa dirinya pada tahun 2014. Si pelaku, Zhu Jun, menolak segala tuduhan dan malah menuntut balik dengan alasan pencemaran nama baik. Xianzi tidak gentar, dukungan masyarakat Cina untuk dirinya pun mulai mengalir deras di media sosial. Pada hari Rabu, 2 Desember 2020, sidang perdana untuk kasus Zhu Jun digelar, sekitar 100 orang pendukung Xianzi melakukan aksi damai di depan Haidian District Court Beijing sembari mengangkat poster-poster bertuliskan tagar #MeToo. Meskipun Xianzi belum memperoleh keadilan dan kejahatan yang menimpanya masih dalam proses persidangan, namun babak baru di parlemen Cina mulai menunjukkan perubahan baik. Undang-undang baru terkait pelecehan seksual mulai diberlakukan pada tanggal 1 Januari 2021.

  • Gerakan #MeToo di India

Ketika Sapi Lebih Aman Ketimbang Perempuan di India, inilah judul artikel yang pernah dipublikasikan tirto.id untuk menggambarkan betapa buruknya perlindungan terhadap perempuan di negeri tersebut. Melansir dari TIMESOFINDIA.COM per-tanggal 7 Oktober 2020, setiap hari terdapat 88 kasus pemerkosaan di India. Oleh karena itu, munculnya gerakan #MeToo membawa angin segar bagi perbaikan undang-undang perlindungan perempuan, agar segala bentuk kekerasan seksual tidak terjadi lagi dan para pelaku memperoleh hukuman yang setimpal. Gerakan #MeToo memotivasi para korban dan penyintas kekerasan seksual di India untuk berani bersuara, membongkar kejahatan para pelaku untuk mendapatkan keadilan di hadapan hukum. Sejak awal kemunculannya di India pada tahun 2018, tagar #MeToo telah digunakan oleh ratusan korban dan terus bertambah. Kasus-kasus yang muncul antara lain: kasus aktor Tanushree Dutta dan komedian Mahima Kukreja, Priya Ramani, mantan Ketua Mahkamah Agung Ranjan Gogoi dan masih banyak lagi kasus yang lainnya yang melibatkan masyarakat biasa, pejabat, hingga para pesohor Bollywood. Sayangnya tidak semua korban berhasil menggiring pelaku ke balik jeruji, beberapa di antaranya terkendala oleh kurangnya bukti dan dukungan.

Bersambung…

 

 

Referensi:

  • https://www.aljazeera.com/news/2020/12/29/egypt-sentences-ex-student-to-3-years-in-jail-for-sexual-assault
  • https://www.middleeastmonitor.com/20200827-suspects-in-fairmont-hotel-gang-rape-flee-egypt/
  • https://nilefm.com/digest/article/7332/ahmed-bassam-zaki-sentenced-to-3-years-in-prison-could-still-appeal-sentence
  • https://timesofindia.indiatimes.com/india/india-sees-88-rape-cases-a-day-but-conviction-rate-below-30/articleshow/78526440
  • https://apnews.com/article/egypt-cairo-archive-gangs-f13b0f6a91f5d9a47a056de2e4744d6e
  • https://www.vice.com/en/article/y3z47w/they-got-away-with-a-gang-rape-caught-on-video-then-came-instagram
  • https://news.detik.com/bbc-world/d-5279580/pengadilan-china-sidangkan-kasus-pelecehan-seks-6-tahun-setelah-kejadian
  • https://economictimes.indiatimes.com/magazines/panache/2018-the-year-when-metoo-shook-india/2018-the-year-of-metoo-in-india/slideshow/66346583.cms

asiawomennews

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Newsletter

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit.

ban11

Recent News