Next Post

FEMINISME, ASAL NAMA HINGGA GELOMBANGNYA

IMG-20210101-WA0017

Penulis: Fitri Usman Ali

Pemerhati Gerakan Perempuan 

Makassar,  Sulawesi Selatan,  AWN (04/01/21) – Jika menilik jejak sejarah, geliat kemandirian dan benih-benih pemberontakan perempuan terhadap ketidakadilan dan diskriminasi gender telah dimulai sejak zaman Yunani kuno dan Romawi kuno. Bahkan mungkin di masa-masa sebelum munculnya peradaban tersebut. Akan tetapi, jejak perjuangan beserta bukti-buktinya telah terkubur atau mungkin sengaja dilenyapkan. Bukankah sejarah diabadikan oleh para pemenang dan penguasa? Di masa-masa terkelam, perempuan bahkan hanya dipandang sebagai object, kedudukannya tidak lebih tinggi dari barang-barang koleksi yang dicintai pemiliknya. Praktik semacam ini bahkan masih terjadi di Eropa pada abad ke-18 hingga pertengahan abad ke-19, kala itu seorang suami bisa menjual istrinya kepada orang lain jika ia telah bosan dan tidak menginginkannya lagi. Tunggu dulu, bukankah itu bentuk praktik Human Trafficking (Perdagangan Manusia) yang bahkan masih terjadi hingga saat ini? Masih cukup sering diberitakan tentang anak-anak yang diculik lalu dijual untuk dijadikan buruh anak dengan upah serendah-rendahnya, atau berita mengenai penjualan perempuan untuk dijadikan pekerja seks komersial. Jika melihat fenomena tersebut, tampaknya perlu direnungkan bersama, bahwa di balik kemajuan teknologi yang demikian pesatnya, peradaban, cara berpikir dan cara manusia memanusiakan manusia lainnya apakah juga benar-benar mengalami kemajuan yang positif? Entahlah.

Lalu kapan istilah “feminisme” mulai didengungkan? Saat perempuan mulai bersuara, aksi-aksi protes lebih dikenal dengan istilah “pergerakan perempuan”. Mereka bangkit memberi perlawanan pada penindasan dan ketidakadilan tanpa berlindung di balik bendera atau label apapun. Yang paling mencengangkan adalah asal mula dicetuskannya kata feminisme itu sendiri. Siapa yang menyangka bahwa awalnya kata feminisme lebih merujuk pada laki-laki dan digunakan sebagai istilah dalam dunia kedokteran. Mengutip dari tulisan Ester Lianawati (penulis buku Ada Serigala Betina Dalam Diri Setiap Perempuan), beliau menyatakan:
“Kata “feminisme” dipopulerkan oleh Dumasfils. Tetapi pertama kali dicetuskan oleh Ferdinand-Valere Faneau dalam disertasi kedokterannya di bawah bimbingan Prof. Jean Lorain berjudul Feminisme dan Infantilisme pada Penderita TBC. Oleh sebab itu, sampai abad 20, istilah “feminisme” masih ditemukan pada kamus kedokteran.” Ester Lianawati, Asal Usul Istilah Feminisme.

Kata “feminisme” yang digunakan dalam dunia kedokteran merujuk pada kerusakan atau gangguan virilitas (kemampuan seks/kejantanan lelaki). Fakta lainnya, salah satu sosok penting yang memicu kesadaran sekaligus menginspirasi kaum perempuan untuk menyuarakan hak-haknya: Mary Wollstonecraft, seorang filsuf perempuan berkebangsaan Inggris yang menuangkan pemikirannya yang tidak biasa di zamannya dalam bukunya yang berjudul A Vindication of the Rights of Women (1792), bahkan belum menggunakan istilah “feminisme”. Berikut salah satu quotenya (melansir dari goodreads.com):
“It is time to effect a revolution in female manners – time to restore to them their lost dignity – and make them, as a part of the human species, labour by reforming themselves to reform the world. It is time to separate unchangeable morals from local manners.” Mary Wollstonecraft, A Vindication of the Rights of Women (1792).

Pada tahun 1808, istilah “feminisme” mulai dikenal luas sejak digunakan oleh Charles Fourier, seorang filsuf Prancis yang menggambarkan sosialisme utopis, tatkala sekat dalam relasi sosial antara perempuan dan laki-laki mulai lenyap (www.kumparan.com). Sedangkan dalam bahasa Inggris, kata “feminisme” pertama kali digunakan pada tahun 1890-an, terkait erat dengan munculnya pergerakan yang menuntut kesetaraan hak politik dan hukum untuk perempuan (www.newworldencyclopedia.org).
***
Melansir dari berbagai sumber, dijelaskan bahwa sejarah feminisme terbagi ke dalam tiga gelombang (pendapat yang paling umum), namun sumber lain menyatakan bahwa terdapat empat gelombang feminisme. Adapula yang sependapat bahwa gelombang feminisme terbagi tiga, namun saat ini telah memasuki gelombang ke-empat. Setali tiga uang dengan waves-nya yang diperdebatkan berbagai pihak, lini masa setiap gelombang feminisme yang memiliki fokus yang berbeda (namun tetap berkesinambungan) juga tidak luput dari perbedaan pendapat. Oleh sebagian pihak, lini masa dianggap tidak akurat karena masing-masing fokus perjuangan sangat bisa berlanjut hingga saat ini. Di sisi lain, ada yang menggunakan lini masa hanya semata-mata untuk memudahkan pembaca dan orang-orang yang mempelajari sejarah feminisme, atau untuk menunjukkan bahwa fokus perjuangan/tuntutan para perempuan sangat dipengaruhi oleh situasi pada masa di mana mereka hidup.
Gelombang pertama, terjadi pada kisaran pertengahan abad ke-19 hingga awal abad ke-20, memperjuangkan hak suara/hak pilih perempuan dalam dunia politik serta hak kepemilikan properti.
Gelombang kedua, puncaknya terjadi pada kisaran 1960-an sampai 1980-an, menitikberatkan perjuangan untuk mendapatkan kesetaraan di tempat kerja, identitas dalam keluarga, serta menyoroti hak seksualitas dan reproduksi. Gelombang kedua inilah yang menuai kontroversi karena tuntutannya dianggap “pilih kasih”, terlalu berkiblat pada pemenuhan hak para perempuan berkulit putih dari golongan menengah ke atas.
Gelombang ketiga, dimulai pada 1990-an hingga awal tahun 2000-an, merupakan reaksi terhadap feminisme gelombang kedua. Fokus gelombang ini lebih luas, mencakup hak-hak perempuan dengan mempertimbangkan dan menganalisa pengaruh ras, etnis, kelas, agama, jenis kelamin, dan kebangsaan sebagai faktor penting yang membuat permasalahan perempuan dari berbagai belahan dunia begitu kompleks.
Berbagai sumber menyatakan perjuangan gelombang ketiga feminisme inilah yang dilanjutkan hingga hari ini. Akan tetapi sanggahan mulai bermunculan, karena beberapa pihak mulai memproklamasikan lahirnya feminisme gelombang ke-empat. Apa saja fokus perjuangannya? Siapa inisiatornya? Akan dibahas pada tulisan berikutnya.(AWN) 

 

asiawomennews

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *