Next Post

Kesehatan Mental Ibu Krusial dalam Pengasuhan dan Tumbuh Kembang Anak

c6e68-web-14

Jakarta, AWN (03/12/21) – Menjaga kesehatan mental di masa pandemi merupakan hal penting untuk kita perhatikan, baik pada ibu maupun anak. Kesehatan mental seorang ibu menjadi krusial dalam pengasuhan, tumbuh kembang anak, dan perannya menjalankan tugas sehari-hari. Namun, kesehatan mental ini terkadang masih sering disepelekan, baik oleh pasangan, keluarga, lingkungan, dan bahkan oleh ibu itu sendiri. Pembahasan kesehatan mental seorang ibu, menjadi tema utama pada webinar “Hubungan Kesehatan Mental Ibu dan Pengaruhnya terhadap Emosi Anak” yang diselenggarakan berkat kerjasama Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) bersama Orami Community dan IdePlus.

 

 

 

Asisten Deputi Bidang Pemenuhan Hak Anak atas Pengasuhan dan Lingkungan Kemen PPPA, Rohika Kurniadi Sari menekankan menjalankan peran seorang ibu dalam kondisi pandemi Covid-19 seperti saat ini penuh dengan tantangan. Selain mengurus pekerjaan rumah tangga, ibu juga harus mengasuh dan mendampingi anak dalam mengikuti pembelajaran online.

 

 

 

“Apalagi bagi ibu yang bekerja, kondisi seperti ini tentu lebih rentan menghadapi tekanan. Yang menyebabkan kondisi kesehatan mental ibu menjadi tidak baik sehingga dapat berpengaruh dalam mengasuh anak-anaknya. Oleh karena itu, menjadi penting bagi seorang ibu memiliki kondisi kesehatan mental yang baik,” ujar Rohika.

 

 

 

Rohika menambahkan saat ini dalam rangka Hari Anak Sedunia, sangat penting dan menjadi tantangan yang luar biasa untuk anak serta keluarga di masa pandemi untuk mengendalikan kesehatan mental dan pengaruhnya terhadap tumbuh kembang dan masa depan anak. Hal ini sejalan dengan Arahan Presiden ke-2 kepada Kementerian PPPA, yaitu Peningkatan Peran Ibu dan Keluarga dalam Pengasuhan/Pendidikan. “Sehingga memang perlu ada kebiasaan-kebiasaan yang dapat dilakukan untuk membentuk mental kuat pada anak, mulai diterapkan dari diri sendiri, keluarga, hingga lingkungan luas. Besar harapan dari diskusi hari ini kita mendapatkan pencerahan bagaimana menyikapi situasi saat ini dengan tetap mengutamakan kepentingan terbaik bagi masa depan anak serta dapat meningkatkan nilai kebersamaan dan menyempurnakan hubungan keluarga Indonesia. Karena untuk mewujudkan anak-anak yang bahagia, diperlukan juga ibu yang bahagia dengan jiwa yang sehat dan kuat. Mari kita ciptakan keluarga Indonesia di masa pandemi yang siap membangun masa depan anak generasi emas 2045 dengan kesehatan mental yang baik,” tutur Rohika.

 

 

 

Sementara itu, Head of Community Orami, Raymond Wirya Santosa mengucapkan terima kasih atas terselenggaranya webinar pada hari ini dengan tujuan memberikan masukan kepada para ibu dan keluarga di Indonesia bagaimana pentingnya memiliki kesehatan mental yang baik demi menjaga emosi anak dan masa depan anak itu sendiri.

 

 

 

“Kesehatan mental merupakan hal yang penting dalam pertumbuhan dan perkembangan anak terutama yang masih dalam periode emas. Selama pandemi ini, orangtua dan anak-anak yang mempunyai msalah kesehatan mental mengalami peningkatan dari sebelumnya. Maka dari itu, Orami sebagai komunitas parenting yang memfasilitasi kebutuhan keluarga sangat mendukung terselenggaranya webinar ini. Besar harapan dengan terselenggaranya webinar hari ini yang juga dihadiri oleh psikolog anak dan keluarga dapat memberikan insight dan menjadi wadah diskusi terkait bagaimana menjaga kesehatan mental bagi seorang ibu yang berpengaruh terhadap emosi anak dan memberikan pengasuhan serta mengawal tumbuh kembang anak di masa pandemi ini,” ujar Raymond.

 

 

 

Lebih lanjut, Psikolog IdePlus, Erika Kamaria Yamin menuturkan kesehatan mental terutama bagi ibu dalam menjalankan peran pengasuhan sangatlah penting. “Kesehatan mental seorang ibu akan berpengaruh terhadap kesehatan dan kesejahteraan anak dalam jangka panjang. Kesehatan mental juga berpengaruh terhadap ibu itu sendiri serta kepuasan hidup ibu secara keseluruhan yang akan berdampak si ibu akan lebih bijak dalam mengambil keputusan,” ungkap Erika

 

 

Erika menerangkan banyak ciri-ciri yang memperlihatkan kesehatan mental seorang ibu yang terganggu salah satunya terdapat perubahan sikap ke arah yang destruktif contohnya seorang ibu yang awalnya sangat sabar menjadi lebih mudah marah dan memperbesar masalah yang kecil. “Untuk mengatasi hal tersebut, terdapat lima jurus jitu merawat kesehatan mental ibu, langkah pertama adalah setujui, terima, dan akui perasaan yang ada misalnya saat kita merasa ada sesuatu yang tidak baik atau saat kita merasa lelah maka kita harus mengakuinya jangan mencoba untuk menolaknya dengan alasan kurang bersyukur. Kedua, tetapkan ekspektasi masuk akal dan sesuai dengan standar karena jika tidak hal ini akan membuat kita merasa tidak bahagia dan selalu merasa kurang. Ketiga, terapkan healthy habit dengan merawat diri dan jaga kebugaran fisik yang nantinya akan berpengaruh terhadap kesehatan mental. Keempat, Ask for help, komunikasi asertif dengan anggota keluarga lainnya tentang apa yang dirasakan dan mencari bersama solusi atas masalah yang dihadapi. Kelima, tetap tenang dan sempatkan waktu untuk melakukan relaksasi agar tetap sehat,” terang Erika.

 

 

Terkait dengan kondisi anak-anak di masa pandemi, Ketua Sekretariat Forum Anak Nasional 2021-2023, I Made Yogi Windu Saputra mengatakan terdapat dampak negatif pada anak dengan diterapkannya sistem pembelajaran jarak jauh atau sekolah online. “Dengan adanya kebijakan sekolah dari rumah anak menjadi kurang melakukan interaksi sosial, kecenderungan penggunaan gadget yang berlebihan dan berdampak negatif, serta gangguan kesehatan mental pada anak. Untuk itu, menjadi sangat penting untuk kita semua bukan hanya pemerintah tapi keluarga, lingkungan sekitar, dan anak itu sendiri urnuk bersama-sama menjaga kondisi mental anak dan juga orangtua saat pandemi,” ujar Yogi. 

 

 

Yogi menambahkan untuk mengetahui bagaimana pengetahuan dan persepsi anak tentang pandemi Covid-19 serta kondisi psikologi anak selama masa new normal Forum Anak Nasional mengadakan Survei Ada Apa Dengan Covid-19 (AADC) 1 dan 2. “Responden dari survei ini adalah anak dengan total 4242 anak yang hasilnya dapat di akses pada link bit.ly/HasilSurveiAADC19. Survei ini diselenggarakan berkat kerjasama dari FAN dan Kemen PPPA. AADC 19 dilakukan dua kali yang pertama dalam rangka mengetahui sejauh mana pengetahuan dan persepsi anak terkait Covid-19 dan yang kedua untuk mengetahui bagaimana kondisi psikologi anak pada masa new normal dan partisipasi anak pada masa new normal. Jadi selain kondisi mental orangtua khususnya ibu, kondisi mental anak juga sangat penting untuk diberi perhatian khusus,” jelas Yogi.(AWN/fh)

asiawomennews

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Newsletter

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit.

ban11

Recent News