Next Post

SHOPAHOLIC, MENDATANGKAN KEBAHAGIAAN ATAU MENAMBAH UTANG?

Shoppaholic, (1)

AWN (05/02/21) – “Win or lose, we go shopping after the election.” Imelda Marcos

Pernah menonton film Confessions of a Shopaholic? Film bergenre komedi romantis yang rilis di tahun 2009 ini menyajikan gambaran kehidupan seorang perempuan yang kecanduan belanja atau gila belanja (Shopaholic). “When I shop, the world gets better. The world is better. And then it’s not anymore, and I need to do it again” adalah penggalan kalimat paling terkenal dari film tersebut, yang secara akurat menggambarkan efek jangka pendek dan efek jangka Shopaholic. Seseorang yang kecanduan belanja akan merasakan kepuasan atau kebahagiaan sesaat setelah berbelanja. Kondisi ini sejalan dengan pendapat seorang profesor ilmu kesehatan terapan bernama Ruth Clifford Engs. Menurutnya, sensasi bahagia muncul sebab otak melepaskan hormon kenikmatan (endorfin) dan hormon kesenangan (dopamin) pada saat berbelanja. Sayangnya, sensasi puas dan bahagia tidak bertahan lama, sehingga si pecandu belanja harus merogoh kocek sedalam-dalamnya bahkan sampai terlilit utang demi merasakan kembali kombinasi endorfin dan dopamin, lagi dan lagi. Inilah efek jangka panjangnya.

Apakah kamu termasuk orang yang kecanduan belanja?

PsychGuides.com menyarankan untuk menanyakan pertanyaan-pertanyaan berikut sebagai tes pada diri sendiri.

  1. Apakah kamu berbelanja untuk melupakan/menghilangkan rasa marah atau kecewa?
  2. Apakah jumlah pengeluaranmu lebih besar dari penghasilan/gajimu dan justru menimbulkan masalah baru?
  3. Apakah kebutuhan belanjamu menimbulkan konflik dengan pasangan, keluarga atau orang-orang terdekatmu?
  4. Saat berbelanja, apakah kamu merasakan euforia atau kecemasan?
  5. Apakah kamu merasa baru saja selesai melakukan sesuatu yang liar (susah dikendalikan) atau berbahaya setelah berbelanja?
  6. Setelah berbelanja, apakah kamu merasa bersalah atau malu dengan apa yang telah kamu lakukan?
  7. Apakah kamu sering membeli barang-barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan dan pada akhirnya hanya menumpuk, tidak pernah kamu gunakan atau kenakan?
  8. Apakah pikiranmu didominasi oleh uang?

Jika kamu menjawab “ya” untuk banyak pertanyaan di atas, itu bukan pertanda baik. Apalagi sejumlah penelitian belum dapat memastikan jenis obat yang paling efektif untuk mengatasi kecanduan belanja. Oleh karena itu, mintalah pertolongan pada psikiater yang kompeten.

Solusi lain dipaparkan oleh Dr. April Lane Benson, penulis buku To Buy or Not to Buy: Why We Overshop and How to Stop, berupa enam pertanyaan yang umumnya ia berikan kepada kliennya agar mampu berpikir logis dan membuat keputusan yang bijak sebelum membeli sesuatu.

  1. Mengapa saya berada di sini?
  2. Bagaimana perasaan saya saat ini?
  3. Apakah saya membutuhkan barang ini?
  4. Bagaimana jika saya menunggu?
  5. Bagaimana saya akan membayarnya?
  6. Di mana saya akan menaruhnya?

Pertanyaan-pertanyaan di atas juga diharapkan dapat membantu para pecandu belanja untuk mengendalikan diri dan menghalau hasrat berbelanjanya. Semoga bermanfaat.

“The more you believe happiness comes from material wealth, the more likely you are to be depressed, distressed and anxious—and the less actual well-being you’re likely to experience.” Anonymous.(awn/ftr)

asiawomennews

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Newsletter

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit.

ban11

Recent News