Next Post

Menlu Retno Marsudi Jelaskan Hasil Pertemuan Khusus para Menlu ASEAN dengan Menlu RRT

ASEAN - RRT (1)

Chongqing , RRT, ABIM (8/6/2021) – Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menjelaskan hasil Pertemuan Khusus para Menlu ASEAN dengan Menlu RRT, yang digelar secara fisik di Chongqing, RRT dalam press briefing yang dilaksanakan 7/6/2021. 

Ini merupakan pertemuan fisik pertama Menlu ASEAN-RRT sejak Februari 2020.

Pertemuan ini dilaksanakan dalam rangka perayaan 30 tahun hubungan
kemitraan antara ASEAN dan RRT.
Sebagaimana teman-teman ketahui, RRT merupakan salah satu mitra
strategis dan salah satu mitra terpenting ASEAN.

Di dalam pertemuan tersebut, Menlu Retno Marsudi  menyampaikan tiga isu utama, yaitu:
○ Peningkatan respons ASEAN-RRT terhadap pandemi.
○ Pemajuan kerja sama untuk pemulihan ekonomi berkelanjutan.
○ Perdamaian dan stabilitas di kawasan.

 

Terkait isu pertama, yaitu peningkatan respons ASEAN-RRT terhadap pandemi di dalam pernyataan nasional Indonesia saya kembali tekankan, bahwa pandemi masih jauh dari selesai.

Kesenjangan vaksin global berisiko memperlama pandemi, termasuk di Asia
Tenggara. Saat ini 75% vaksin dinikmati oleh 10 negara, dan hanya 0.4% yang
dinikmati oleh negara berpendapatan rendah.

Sementara ASEAN sejauh ini baru memvaksinasi 7,8% populasinya. RRT dalam hal ini memainkan peran yang sangat penting dalam meningkatkan kerjasama vaksin.

Dengan telah diterimanya persetujuan EUL WHO bagi Sinopharm dan Sinovac, maka diharapkan RRT dapat melakukan kerjasama dosis sharing termasuk melalui Covax Facility.

Ke depannya, kita berharap peningkatan kerja sama dengan RRT dalam hal:
○ Dukungan terhadap ASEAN COVID-19 Response Fund;
○ Kemudian berbagi lebih banyak dosis atau dosis sharing melalui COVAX Facility kenapa ini penting sekali adalah dalam rangka memenuhi equal access for vaccines to all countries; dan
○ Ke depan, peningkatan kerja sama juga diperlukan untuk meningkatkan kapasitas produksi dengan cara memproduksi di
negara-negara lain.

Di luar isu vaksin, kemitraan ASEAN-RRT dalam membangun  kesehatan kawasan juga sangat penting guna mengantisipasi pandemi di masa mendatang.

Hal ini dapat dicapai melalui:
● Penguatan sistem deteksi dini;
● Investasi dalam industri kesehatan, termasuk sektor farmasi;
● Penelitian dan pengembangan; serta
● Pembentukan pusat produksi vaksin regional.

Di tingkat global, kita harus bekerja sama untuk memajukan kepentingan negara-negara berkembang pada perjanjian internasional tentang kesiapsiagaan pandemi.

Isu kedua yang saya sampaikan dalam pertemuan tadi adalah terkait pemulihan ekonomi yang berkelanjutan.
Pandemi COVID-19 ini menjadi momentum bagi kita untuk meningkatkan
kerja sama pembangunan dan ekonomi hijau yang berkelanjutan.

Dalam kaitan ini, ASEAN-China Year for Sustainable Development dapat
menjadi katalis untuk kolaborasi di bidang:
● Investasi dalam energi hijau, seperti baterai lithium;

● Pembiayaan inovatif untuk infrastruktur hijau;
● Pembiayaan untuk proyek ramah lingkungan, dan
● Penelitian serta pengembangan bahan bakar nabati dan energi terbarukan.

Segala upaya ini harus disinergikan agar kita dapat memimpin dengan teladan, lead by example, dalam meningkatkan ambisi iklim di kawasan.

Kemudian, isu ketiga yang saya sampaikan adalah terkait dengan perdamaian dan stabilitas di kawasan. Di bawah isu perdamaian dan stabilitas kawasan ini, saya menyampaikan 3 isu.

Yang pertama mengenai masalah Myanmar. Saya sampaikan kembali bahwa keselamatan dan kesejahteran masyarakat Myanmar serta
pemulihan demokrasi harus menjadi prioritas utama kita.

ASEAN telah bekerja keras, sehingga ASEAN Leaders Meeting dapat diselenggarakan di Jakarta, 24 April yang lalu, dan menghasilkan 5 point of consensus. Tugas ASEAN sekarang ini adalah segera mengimplementasikannya.

Dukungan RRT kepada ASEAN guna menindaklanjuti 5 point of consensus
akan sangat dihargai, karena hal ini akan memberikan kontribusi bagi upaya
mencapai solusi damai atas krisis yang terjadi.

Yang kedua adalah isu Indo Pasifik. Saya menekankan dinamika geopolitical yang berkembang mengharuskan kita semua untuk menjaga kawasan agar tetap stabil, damai dan sejahtera.

Oleh karena itu, kita harus terus meningkatkan kebiasaan untuk berdialog
dan bukan persaingan (rivalry); terus membangun kepercayaan strategis,
dan bukan justru menciptakan defisit kepercayaan; dan membangun kerja
sama konkret yang saling menguntugnkan atau win-win dan bukan zero-sum
game, sejalan dengan ASEAN Outlook on the Indo-Pacific.

Yang ketiga, mengenai isu Laut Tiongkok Selatan, saya menekankan bahwa
kemampuan kita mengelola Laut Tiongkok Selatan akan menjadi ujian bagi
hubungan ASEAN-RRT.

ASEAN dan RRT harus segera melanjutkan pembahasan Code of Conduct
yang kemajuannya saat ini sangat lambat. Kita berharap perundingan ini
cepat selesai dengan hasil yang efektif dan substantif.

Dalam kaitan ini, Indonesia siap menjadi tuan rumah pertemuan negosiasi
Code of Conduct di Jakarta dalam waktu dekat.

Indonesia juga mendorong agar semua pihak terus mematuhi pelaksanaan
Declaration of Conduct (DOC) termasuk menahan diri (self restraint).
Saya mengulangi kembali bahwa kemampuan kita mengelola Laut China
Selatan akan dapat memperkuat kemitraan kita yang setara, saling
menguntungkan dan sangat diperlukan bagi perdamaian dan stabilitas
global. Dan semua harus dilakukan sesuai dengan UNCLOS 1982.

Hasil dari Pertemuan para Menlu ASEAN dengan Menlu RRT sampai saat
ini masih dinegosiasikan. Jadi negosiasi mengenai hasil pertemuan masih
berjalan. Namun secara garis besar hasil pertemuan akan mencakup tiga
isu utama, yaitu:

Pertama, kerja sama ASEAN-RRT dalam menanggulangi COVID-19 dan
kerja sama kesehatan secara umum, termasuk kerja sama vaksin, pasokan
medis dan pemberian bantuan teknis;

Kedua, upaya saling dukung dalam pemulihan ekonomi.

Ketiga, komitmen bersama untuk memulai kembali negosiasi teks Code of
Conduct atau Kode Perilaku di Laut Tiongkok Selatan, yang selama setahun lalu tertunda akibat pandemi.

Selain mengikuti Pertemuan Khusus para Menlu ASEAN dengan MenluRRT, saya juga melakukan beberapa pertemuan selama berada di
Chongqing, yaitu:
● Informal breakfast meeting di antara para Menlu ASEAN 

● Pertemuan bilateral dengan Menlu RRTI Wangyi, dan
● Pertemuan bilateral dengan Menlu Thailand.(AWN) 

asiawomennews

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *