Next Post

Women 20, Perkuat Komitmen Kesetaraan Gender Dan Pemberdayaan Perempuan

08596-web-30

“Hal inilah yang mendasari W20 membutuhkan mitra yang kuat dengan kelompok kerja lainnya dalam G20 untuk menjawab permasalahan kekerasan berbasis gender dan kekerasan terhadap perempuan dengan mengadvokasi kebijakan intervensi yang termasuk pada kelompok kerja relevan baik di Sherpa track maupun financial track. Bangkit bersama, bangkit lebih kuat menggambarkan upaya kolektif untuk bangkit dari pandemi global. Aksi kolektif berarti perempuan harus dilibatkan secara aktif dalam berbagai proses G20 dan isu perempuan harus dikedepankan dalam agenda G20. Ini semua adalah mandate kita, mandate W20,” ungkap Menteri Bintang.

Menteri Bintang mengatakan pandemi juga mendorong lebih banyak perempuan kepada kemiskinan ekstrim yang artinya juga memperlebar kesenjangan gender dalam kemiskinan. Lebih parahnya, UN Women melaporkan bahwa kekerasan terhadap  perempuan, terutama KDRT telah meningkat akibat pandemi. Padahal, kekerasan terhadap perempuan secara negatif berdampak pada fisik, mental, dan emosi perempuan, termasuk pula kesehatan reproduksinya, dan pada saat yang sama pula kekerasan terhadap perempuan juga mempengaruhi keluarga, komunitas, dan masyarakat serta negara secara luas.

“Kekerasan terhadap perempuan telah menjadi permasalahan yang berlapis dalam kesenjangan gender yang termasuk bagian dari diskriminasi, bahkan terintegrasi dalam norma, perilaku, dan praktik sosial-budaya yang merugikan dan diskriminatif. Akibat dari pandemi covid-19 meninggalkan kita dengan kerja yang lebih dan tugas yang lebih untuk pencapaian ke depannya, tetapi kita akan semakin kuat dengan memperkaya wawasan dari rangkaian kegiatan yang akan menguatkan kita sebagai komunitas G20. Agar perempuan dapat berdaya, mereka akan membutuhkan kemampuan untuk bertahan dari kesulitan dan melewati rintangan yang telah dibangun oleh norma sosial-budaya dan stereotype dan juga tantangan lain seperti kesulitan ekonomi, risiko, dan kerentanan, juga berbagai dampak dari diskriminasi,” ujar Menteri Bintang.

Menteri Bintang mengatakan seluruh anggota yang hadir harus dapat memastikan hasil dari kegiatan ini tepat sasaran pada tujuan kunci yang akan menguatkan ketahanan perempuan dalam melawan diskriminasi. Sebab, pada saat perempuan berdaya dan anak-anak terlindungi, kesejahteraan akan menjadi milik kita semua. “Ini merupakan sebuah catatan sejarah baru. Indonesia tentunya bangga menjadi saksi dan memfasilitasi komitmen, upaya, dan aksi dalam meningkatkan status perempuan secara global khususnya dalam konteks pemulihan sosial-ekonomi bersama G20. Kami yakin, upaya bersama ini dapat bermanfaat sebagaimana tema kita, Recover Together and Recover Stronger,” tutup Menteri Bintang.

Sementara itu, Chair of W20, Uli Silalahi menuturkan Chair Women20 (W20) Indonesia sekaligus Ketua Bidang Luar Negeri Kongres Wanita Indonesia (KOWANI), Hadriani Uli Silalahi mengungkapkan diskriminasi dan kekerasan terhadap perempuan telah berlangsung lama dan menjadi tantangan yang harus dihadapi perempuan untuk diberdayakan sepenuhnya, untuk berpartisipasi, dan berfungsi secara setara dalam masyarakat dan ekonomi.

“Kami juga memahami hambatan yang dihadapi perempuan dalam mencapai kebebasan finansial sambil mengakui besarnya peran UMKM perempuan dalam masa pemulihan ini. Selain itu, pemberdayaan perempuan di pedesaan dan perempuan penyandang disabilitas penting dalam proses membangun ketahanan sejak lama tertahan oleh keterbatasan akses dan karena situasi saat ini kita juga tidak bisa melewatkan perlunya pemerataan respon kesehatan yang meliputi kesehatan reproduksi dan kesehatan mental. Oleh karena itu, fungsi dan tujuan dari side event W20 ini adalah untuk menerima masukan, wawasan, dan pemikiran untuk pengembangan pengetahuan W20 seperti yang disebutkan itu dalam strategi kami untuk membangun advokasi yang kuat, maka kami perlu membangun kasus yang lebih kuat,” ujar Uli.

“Saya juga ingin mengingatkan semua orang di sini bahwa kita tidak dapat mengambil risiko kehilangan, kemajuan yang diperjuangkan dengan keras, kesetaraan gender, dan pemberdayaan perempuan. Dengan bantuan dan dukungan semua pihak kita dapat menempatkan kesetaraan antara perempuan dan laki-laki yang tercantum pada inti dari Agenda G20. Let’s put Recover Together, Equally sebagai garda terdepan dalam pencapaian upaya G20 menuju kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan,” imbuhnya.

Co-Chair Women20 Indonesia yang merupakan Presiden Direktur and CEO XL Axiata, Dian Siswarini menuturkan sangat menyenangkan melihat kesungguhan komitmen dari berbagai negara yang mendukung perempuan mencapai potensi penuh mereka sebagai bagian dari angkatan kerja global untuk mengurangi kesenjangan gender.  

“Pemberdayaan dan inklusi ekonomi perempuan adalah kunci dalam mencapai agenda pembangunan berkelanjutan pada 2030 dan teknologi adalah pendorongnya. Digitalisasi membawa potensi besar untuk mempercepat pemberdayaan perempuan, namun masih banyak yang terpinggirkan dari ekonomi digital. Namun, saya percaya tahun ini kita memiliki kesempatan unik untuk melihat lebih jauh dan mengkatalisasi inklusi keuangan untuk menutup kesenjangan gender. Jalan untuk mengakhiri diskriminasi masih panjang. Namun, dengan bekerja sama, target dapat dicapai, dan mulai sekarang, saya yakin kita bisa mempercepat prosesnya. Jadi, kita semua bisa Recover Together, Equally,” ujar Dian.

Pertemuan side event W20 ini dihadiri oleh perwakilan dari W20; LSM di dunia, wilayah regional, dan nasional, universitas, mitra pembangunan, dan praktisi individu yang berkumpul bersama untuk mengadvokasi salah satu isu yang paling strategis di dunia yaitu kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan.(AWN) 

asiawomennews

Related posts

Sorry, we couldn't find any posts. Please try a different search.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Newsletter

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit.

ban11

Recent News