Next Post

Press Briefing Menlu RI Kunjungan Presiden RI ke Melbourne, Australia 5-6 Maret 2024

images (73)

Melbourne, Australia, AWN (9/3/2024) – Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi menggelar press briefing tentang kunjungan Presiden RI Joko Widodo ke Melbourne, Australia 5-6 Maret 2024 yang dilaksanakan 6 Maret 2024 di Melbourne Australia.

Rekan-rekan media yang saya hormati,

Bapak Presiden baru saja selesai melakukan rangkaian kegiatan di Melbourne, utamanya dalam rangka menghadiri KTT ASEAN-Australia.

Selain hadir di KTT ASEAN-Australia, Bapak Presiden juga telah melakukan pertemuan bilateral dengan PM Australia, PM Selandia Baru; dan PM Kamboja.

Saya mulai dengan pelaksanaan KTT ASEAN-Australia. KTT ini dilakukan dalam rangka peringatan 50 tahun kemitraan ASEAN dengan Australia. Australia merupakan mitra pertama ASEAN, dan Australia juga merupakan mitra pertama di mana ASEAN memiliki Kemitraan Strategis Komprehensif.

Tema KTT kali ini adalah ‘A Partnership for the Future’. KTT itu sendiri secara garis besar dibagi dalam dua sesi. Sesi yang pertama membahas “Future ASEAN-Australia Cooperation dan The Three ASEAN Cooperation Pillars”. Inti dari sesi pertama sebenarnya adalah membahas future cooperation.

Sebagaimana teman-teman ketahui, tahun lalu Australia mengeluarkan dokumen yang dipersiapkan atau dibuat oleh Nicholas Moore dan laporan ini adalah mengenai, judulnya “Invested: Australia’s Southeast Asia Economic Strategy to 2040“, atau biasa disebut strategi ekonomi Australia untuk Southeast Asia, untuk Asia Tenggara.

Inti dari laporan Nicholas Moore tersebut sebenarnya merupakan sebuah pendekatan baru yang akan dilakukan oleh Australia dalam rangka meningkatkan perdagangan dan investasi dengan Asia Tenggara. Di mata Australia, Asia Tenggara merupakan Kawasan yang sangat potensial dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi, kedekatan geografi tentunya, komplementaritas ekonominya, dan merupakan bagian dari upaya Australia untuk melakukan diversifikasi ekonomi.

Di dalam laporan tersebut ada 4 hal besar yang akan dilakukan, yaitu: raising awareness, removing blockages, building capacities dan deepening investment. Sementara 10 prioritas atau sektor yang akan diprioritaskan adalah agriculture and food, resources, green energy transition, infrastructure , education and skill, visitor economy, healthcare, digital economy, professional and financial services, serta yang ke sepuluh adalah creative industries.

Sebagai implementasi dari pendekatan baru sebagaimana laporan Nicholas Moore tadi Australia telah meluncurkan: ASEAN-Australia Center Ini adalah sebagai bentuk dukungan dari implementasi AOIP.

Kemudian Australia juga lakukan pemberian 55 beasiswa magister dan 55 beasiswa non-gelar di bidang kerja sama AOIP bagi negara ASEAN dan  juga Timor Leste, serta penambahan pusat fasilitasi start up Australia di 4 kota di ASEAN termasuk di Indonesia dan Vietnam. Sebelumnya fasilitas seperti ini sudah ada di Singapura.

Di dalam sesi pertama mengenai future cooperation Bapak Presiden dalam pernyataan nasionalnya menekankan pentingnya fokus perhatian ke depan di tiga bidang:

Pertama, penguatan integritas ekonomi ASEAN dan Australia di mana Presiden tekankan pentingnya penguatan kerja sama perdagangan dan investasi yang sifatnya dua arah. Dan Presiden juga menekankan pentingnya sinergi antara strategi yang ada yang dimiliki Australia seperti tercermin dalam laporan Nicholas Moore dengan implementasi dari AOIP. Jadi sekali lagi Bapak Presiden menekankan pentingnya ada sinergi antara pendekatan baru Australia yang tercermin dalam laporan Strategi Australia mengenai pendekatan kepada ekonomi Asia Tenggara atau saya singkat Invested 2040 yang dibikin oleh Nicholas Moore dengan yang satunya adalah implementasi dari AOIP.

Hal Kedua, percepatan transisi energi dimana dukungan Australia terhadap ASEAN Strategy for Carbon Neutrality sangat diharapkan terutama dalam bentuk investasi, kemudahan akses pembiayaan inovatif dan transfer teknologi.

Indonesia juga mendorong Australia untuk dukung pembangunan EV ecosystem di ASEAN. Selain itu, Bapak Presiden juga menekankan bahwa Indonesia menentang kampanye hitam dan diskriminasi yang menggunakan dalih lingkungan hidup yang tidak berdasarkan bukti-bukti saintifik.

Hal ketiga yang disampaikan Bapak Presiden di sesi pertama adalah kerja sama transformasi digital. Presiden menyampaikan potensi ekonomi digital ASEAN amat kuat. Tahun lalu, perundingan ASEAN Digital Economy Framework Agreement (DEFA) telah dimulai. Indonesia juga berharap Australia dapat dukung upaya transformasi digital ASEAN melalui skill development, knowledge sharing dan kemitraan publik dan privat yang kuat.

Rekan-rekan…untuk sesi kedua dikemas dalam bentuk retreat. Retreat ini mengambil tema “Our Vision for the Region and Addressing Shared Challenges“. Di sesi ini, isu geopolitik dibahas. Di sesi ini, Bapak Presiden dalam pernyataan nasionalnya menekankan pentingnya ASEAN dengan Australia terus menghormati hukum internasional dan tidak boleh ada negara yang di atas hukum.

Presiden menekankan 3 hal:

Pertama rules based order harus terus ditegakkan tanpa standar ganda.

Yang kedua spirit dan paradigma kolaborasi harus terus diperkokoh agar tidak terjadi trust deficit. Di sini kerja sama yang sifatnya inklusif sangat penting agar tercipta strategic trust. Presiden juga harapkan Australia dapat jadi jembatan kerja sama ASEAN dengan PIF dan juga dengan IORA.

Hal ketiga yang disampaikan bapak presiden adalah solidaritas terhadap Palestina dan seruan untuk hentikan genosida di Gaza. Di sini Presiden kembali menekankan pentingnya gencatan senjata dan ajakan untuk terus memberikan dukungan kepada UNRWA, dan pentingnya two state solution.

Rekan-rekan yang saya hormati,

KTT ASEAN – Australia telah hasilkan dua dokumen, yaitu Melbourne Declaration isinya adalah arah kerja sama di bidang politik-keamanan, ekonomi dan sosial budaya ke depan.

Dan dokumen yang kedua adalah ASEAN-Australia Leaders Vision Statement isinya adalah visi para pemimpin dalam hadapi berbagai tantangan perubahan geopolitik, geostrategi dan juga geoekonomi.

Rekan-rekan,

Di sela-sela KTT, Presiden lakukan 3 pertemuan bilateral. Pertemuan yang pertama adalah dengan PM Kamboja. Di sini, Presiden membahas tiga hal:

Pertama, perdagangan dan investasi. Nilai perdagangan kita dengan Kamboja tumbuh 14,6% tahun lalu, dan dari segi nilainya sudah melampaui 1 miliar USD. Bapak Presiden mendorong peningkatan perdagangan melalui pengembangan konektivitas dan infrastruktur di sektor udara dan laut. Presiden juga mendorong investasi BUMN Indonesia di Kamboja.

Hal kedua yang ditekankan Bapak Presiden dalam pertemuan bilateral adalah pemberantasan TPPO. Presiden mendorong implementasi MoU Pemberantasan Kejahatan Transnasional yang sudah disepakati tahun 2023.

Yang Ketiga, mengenai ketahanan pangan. Di  sini Bapak Presiden menekankan kerja sama mengenai ketahanan pangan sangat penting untuk dilakukan secara sustainable, dan implementasi MoU Pertanian untuk penguatan rantai pasok dan ketahanan pangan kedua negara perlu terus diperkuat.

Kemudian dengan PM Selandia Baru juga dibahas tiga hal.

Pertama, mengenai perdagangan. Di sini Bapak Presiden mendorong peningkatan perdagangan terutama di sektor halal melalui Mutual Recognition Agreement (MRA).

Kedua, di bidang transisi energi. Presiden menyampaikan apresiasi atas kerja sama di bidang energi panas bumi termasuk komitmen pendanaan senilai NZD 15,6 juta dari Selandia Baru dalam skema Indonesia-Aotearoa New Zealand Geothermal Energy Programme atau PINZ. Presiden juga mendorong peningkatan kerja sama di bidang pengembangan energi geothermal dan transisi energi di Indonesia.

Yang ketiga, kemitraan di Pasifik, dimana Bapak Presiden mengapresiasi dukungan Selandia Baru terhadap implementasi AOIP dan mengharapkan Selandia Baru juga dukung peningkatan peran Indonesia di kawasan Pasifik melalui PIF.

Presiden juga mendorong kerja sama trilateral dengan Selandia Baru dan negara Pasifik lainnya di bidang pembangunan sejalan dengan visi Pacific Elevation Indonesia.

Terakhir,  Bapak Presiden juga mengundang Selandia Baru untuk menghadiri World Water Forum yang akan diselenggarakan di Bali pada Mei tahun ini.

Pertemuan bilateral ketiga yang dilakukan Bapak Presiden adalah dengan PM Australia. Di sini, Bapak Presiden mengangkat mengenai empat hal.

Pertama, peningkatan kerja sama bilateral. Tahun ini kedua negara peringati 75 tahun hubungan diplomatik. Presiden menyambut baik MoU on EV Collaboration antara kedua negara yang ditandatangani November lalu dan mendorong implementasinya segara guna perkuat kerja sama rantai pasok mineral kritis dan kendaraan listrik. Terkait nikel Presiden mendorong kolaborasi kedua negara dalam menghadapi situasi pasar global.

Presiden juga menyampaikan Indonesia berencana membuka kantor perwakilan BNI di Sydney untuk tingkatkan kerja sama di sektor keuangan. Beliau juga menyambut baik penandatanganan MoU antara Otorita IKN dengan National Capital Authority Australia yang dilakukan pada 27 Februari yang baru lalu dan mengundang sektor swasta Australia untuk investasi dalam pembangunan IKN.

Hal Kedua yang ditekankan Bapak Presiden adalah pentingnya penguatan kerja sama perdagangan. Presiden menekankan bahwa penguatan kerja sama harus dilakukan dua arah. Dalam konteks ini, beliau mendorong pentingnya kerja sama bidang biosecurity untuk produk-produk Indonesia, utamanya untuk buah-buahan dan perikanan.

Yang ketiga presiden menekankan pentingnya penguatan people-to-people contact. Bapak Presiden menyambut baik animo pelajar Australia yang jadikan Indonesia tujuan favorit dalam skema New Colombo Plan dan mengundang lebih banyak lagi pemuda Australia untuk berkunjung dan belajar di Indonesia.

Hal keempat yang disampaikan Bapak Presiden dalam pertemuan dengan PM Australia adalah pentingnya kerja sama kawasan, di mana Bapak Presiden mengapresiasi dukungan Australia terhadap keketuaan Indonesia di ASEAN, termasuk partisipasi aktif dan dukungan Australia dalam ASEAN-Indo-Pacific Forum.

Presiden menyambut baik peluncuran Strategi Ekonomi Asia Tenggara 2040 dan berharap strategi tersebut dapat memperkuat integrasi ekonomi Australia dengan ASEAN dalam kerja sama perdagangan dan investasi yang saling menguntungkan.

Dan yang terakhir, Bapak Presiden juga mengundang Australia untuk hadir di World Water Forum di Bali bulan Mei.

Rekan-rekan itu tadi hasil kunjungan Bapak Presiden RI ke Melbourne.

Sementara untuk saya sendiri, saya telah melakukan pertemuan bilateral dengan Menlu Australia Penny Wong dan membahas berbagai hal, antara lain:

  • Kerja sama transisi energi, termasuk pembangunan ekosistem baterai EV.
  • Tindak lanjut MoU on Bilateral Mechanism yang telah ditandatangani tahun lalu.
  • Kemudian saya juga menyampaikan pentingnya kita mengangkat barrier-barrier non-tarrif.
  • Dalam hal ini, saya juga menyampaikan mengenai masalah pentingnya kerja sama dalam biosecurity terutama untuk produk ikan dan buah-buahan.
  • Kemudian, karena Plan of Action dari Indonesia-Australia CEPA akan selesai tahun ini, maka saya sampaikan kepada Menlu Penny Wong bahwa kedua tim harus duduk untuk mulai mendesain Plan of Action untuk tahun 2025-2029, karena PoA tahun 2020-2024 sebentar lagi akan selesai.

Selain itu, saya juga tekankan dalam pembicaraan mengenai pentingnya sinergi antara implementasi dari AOIP dengan Australia’s Southeast Asia Economic Strategy 2040 yang tadi saya sebutkan.

Dan dalam pertemuan bilateral, tentunya kita bicara mengenai masalah Gaza, di mana saya juga tekankan agar kita semua berikan dukungan terhadap kerja UNRWA.

Setelah bertemu Menlu Penny Wong, saya juga bertemu dengan Menlu bayangan Australia Simon Birmingham membahas mengenai situasi kawasan dan global serta hubungan bilateral antara Indonesia dan Australia.

Selain itu, saya juga berkesempatan untuk berdiskusi mengenai berbagai isu tantangan dan isu kawasan dan dunia dengan Herve Lemahieu, Director of Research dari Lowy Institute. Lowy Institute ini merupakan think tank di Australia.

Demikian rekan-rekan. Dari Melbourne, Bapak Presiden, setelah selesai pertemuan, akan langsung kembali ke Jakarta dan InsyaAllah akan tiba di Jakarta 6 Maret malam hari.

 

Terima kasih.

(AWN)

asiawomennews

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *